10. 07. 12. 07:28 pm
I Hate Being Jerk by: Teguh Ramadhany- IT TELKOM Bandung

• 

Narasi : 

Hidup yang mengajarkan kita untuk selalu berjuang dalam menghadapinya, entah bagaimana cara yang akan kita gunakan agar kita tidak tertelan oleh “Hidup”. Ada banyak jenis kehidupan, pekerjaan, dan juga ada banyak penderitaan di sekeliling kita. Pelacur ? ya ! itulah sebutan yang paling hina di negeri ini, sebuah pekerjaan yang bermodalkan penampilan menarik dan body sexy atau menawan. Banyaknya seseorang yang menjadi pelacur dikarenakan “mereka” tidak mampu bertahan dalam menjalankan “hidup” di Ibu Kota (Jakarta).  

 

Detail Foto: Lokasi: Kota Tua Jakarta Pusat 

       Waktu: Siang Hari High-res

I Hate Being Jerk by: Teguh Ramadhany- IT TELKOM Bandung

Narasi :

Hidup yang mengajarkan kita untuk selalu berjuang dalam menghadapinya, entah bagaimana cara yang akan kita gunakan agar kita tidak tertelan oleh “Hidup”. Ada banyak jenis kehidupan, pekerjaan, dan juga ada banyak penderitaan di sekeliling kita. Pelacur ? ya ! itulah sebutan yang paling hina di negeri ini, sebuah pekerjaan yang bermodalkan penampilan menarik dan body sexy atau menawan. Banyaknya seseorang yang menjadi pelacur dikarenakan “mereka” tidak mampu bertahan dalam menjalankan “hidup” di Ibu Kota (Jakarta). 

Detail Foto: Lokasi: Kota Tua Jakarta Pusat

       Waktu: Siang Hari

10. 07. 12. 07:24 pm ♥ 1
Urban Cyclist
by: Prasetyo Nurramadhan-Universitas Bina Nusantara

 

Narasi:  

Awal mula tren bersepeda bagi warga Jakarta adalah sejak dimulainya kegitan “car free day” yang diadakan setiap hari minggu, tetapi seiring berjalannya waktu tren bersepeda ini tidak hanya di lakukan oleh para “bikers” saat “car free day” saja, melainkan di hari-hari lainnya seperti dua orang yang bersepeda santai di Kawasan Monas pada foto ini (Kamis,22/3). Pagi atau sore haripun menjadi pilihan yang sangat tepat bersepeda untuk menghindari teriknya matahari.  

 

Detail Foto: Waktu: 22 Maret 2012 

    Tempat: Kawasan Monas High-res

Urban Cyclist

by: Prasetyo Nurramadhan-Universitas Bina Nusantara

Narasi:

Awal mula tren bersepeda bagi warga Jakarta adalah sejak dimulainya kegitan “car free day” yang diadakan setiap hari minggu, tetapi seiring berjalannya waktu tren bersepeda ini tidak hanya di lakukan oleh para “bikers” saat “car free day” saja, melainkan di hari-hari lainnya seperti dua orang yang bersepeda santai di Kawasan Monas pada foto ini (Kamis,22/3). Pagi atau sore haripun menjadi pilihan yang sangat tepat bersepeda untuk menghindari teriknya matahari.

Detail Foto: Waktu: 22 Maret 2012

    Tempat: Kawasan Monas

10. 07. 12. 07:18 pm
Mudik
by: M. Irfan Rahadi-Universitas Padjajaran

 

Narasi :

Ini adalah situasi pengendara motor saat mudik lebaran idul fitri pada 18 Agustus 2012 jam 6:28 WIB. Mudik sendiri adalah tradisi masyarakat Indonesia yang sudah turun menurun terjadi pada saat lebaran. Istilah mudik sendiri secara etimologi berasal dari kata udik, yang artinya hulu sungai. Hulu sungai biasanya ada didaerah terpencil dan identik dengan daerah pedesaan. Lawan dari hulu adalah hilir yang dataran rendah dan biasanya tempat berdirinya kota besar yang menjadi tempat pertemuan orang dari berbagai desa. Tetapi dimasa sekarang penafsiran kata (m)udik sudah meluas menjadi segala kegiatan “kembali” ke rumah asal, baik yang berasal dari kota kembali ke kota atau lainnya. Foto ini diambil di daerah Ciasem, Pamanukan jalur Pantura pada saat macet. Integrasi yang mucul karena rasa senasib dan sepenanggungan rakyat Indonesia. Jadi rakyat Indonesia mempunyai rasa solidaritas yang tinggi saat musim lebaran. Mereka rela berdesak-desakan di jalan demi satu tujuan yaitu kembali ke kampung halama, tapi inilah tradisi Indonesia yang terjadi hanya pada momen-momen tertentupada saat lebaran definisi ini di adopsi dari teori Ibnu Khaldun.

 

Detail Foto: Waktu:  18 Agustus 2012 jam 6:28 WIB 

         Lokasi: Ciasem, Pamanukan jalur Pantura (lokasi)

 High-res

Mudik

by: M. Irfan Rahadi-Universitas Padjajaran

Narasi :

Ini adalah situasi pengendara motor saat mudik lebaran idul fitri pada 18 Agustus 2012 jam 6:28 WIB. Mudik sendiri adalah tradisi masyarakat Indonesia yang sudah turun menurun terjadi pada saat lebaran. Istilah mudik sendiri secara etimologi berasal dari kata udik, yang artinya hulu sungai. Hulu sungai biasanya ada didaerah terpencil dan identik dengan daerah pedesaan. Lawan dari hulu adalah hilir yang dataran rendah dan biasanya tempat berdirinya kota besar yang menjadi tempat pertemuan orang dari berbagai desa. Tetapi dimasa sekarang penafsiran kata (m)udik sudah meluas menjadi segala kegiatan “kembali” ke rumah asal, baik yang berasal dari kota kembali ke kota atau lainnya. Foto ini diambil di daerah Ciasem, Pamanukan jalur Pantura pada saat macet. Integrasi yang mucul karena rasa senasib dan sepenanggungan rakyat Indonesia. Jadi rakyat Indonesia mempunyai rasa solidaritas yang tinggi saat musim lebaran. Mereka rela berdesak-desakan di jalan demi satu tujuan yaitu kembali ke kampung halama, tapi inilah tradisi Indonesia yang terjadi hanya pada momen-momen tertentupada saat lebaran definisi ini di adopsi dari teori Ibnu Khaldun.

Detail Foto: Waktu:  18 Agustus 2012 jam 6:28 WIB

         Lokasi: Ciasem, Pamanukan jalur Pantura (lokasi)

10. 07. 12. 07:26 pm
Manusia Malam
by: Rian Rizki – Universitas Indonesia  

 

Narasi: 

Jakarta adalah kota yang tidak pernah mati.Tak hanya sisi terang di pagi dan siang hari,  gelapnya malam pun menjadi waktu untuk bekerja. Sebut saja para manusia-manusia malam ini yang tidak pernah lelah untuk membuat sudut-sudut jalanan ibukota menjadi yang lebih baik. Pekerjaan mereka tak mudah, yakni menghaluskan jalanan aspal yang sudah rusak. Keringat dan mata sayu mereka adalah bukti betapa beratnya pekerjaan para manusia malam ini. Tidak hanya menghaluskan aspal saja, mereka pun harus mengatur lalu lintas yang kala itu sedang padat. Salah satu dari manusia malam itu mengayunkan tongkat bercahaya agar lalu lintas berjalan teratur. Teriakan klakson sepeda motor dan mobil pun menjadi makanan sehari-hari mereka. Tapi manusia malam ini tetap berdiri. Sekopnya menjadi bukti manusia malam ini masih perkasa. Pekerjaan yang perkasa pula di dunia malam Jakarta.

 

Detail Foto:  Waktu: 18 September 2012 / 23.10

            Lokasi: Depan Cilandak Town Square.

 

• High-res

Manusia Malam

by: Rian Rizki – Universitas Indonesia 

Narasi:

Jakarta adalah kota yang tidak pernah mati.Tak hanya sisi terang di pagi dan siang hari,  gelapnya malam pun menjadi waktu untuk bekerja. Sebut saja para manusia-manusia malam ini yang tidak pernah lelah untuk membuat sudut-sudut jalanan ibukota menjadi yang lebih baik. Pekerjaan mereka tak mudah, yakni menghaluskan jalanan aspal yang sudah rusak. Keringat dan mata sayu mereka adalah bukti betapa beratnya pekerjaan para manusia malam ini. Tidak hanya menghaluskan aspal saja, mereka pun harus mengatur lalu lintas yang kala itu sedang padat. Salah satu dari manusia malam itu mengayunkan tongkat bercahaya agar lalu lintas berjalan teratur. Teriakan klakson sepeda motor dan mobil pun menjadi makanan sehari-hari mereka. Tapi manusia malam ini tetap berdiri. Sekopnya menjadi bukti manusia malam ini masih perkasa. Pekerjaan yang perkasa pula di dunia malam Jakarta.

Detail Foto:  Waktu: 18 September 2012 / 23.10

            Lokasi: Depan Cilandak Town Square.

10. 07. 12. 07:21 pm
Berbeda
by: Nuri Arunbiarti-Universitas Padjadjaran 

• 

Narasi:  

Foto ini diambil sewaktu saya dan teman dekat saya iseng hunting foto ke Petak 9, Jakarta. Karena saya belum pernah kesana sebelumnya, jadi saya memanfaatkan akhir pekan dengan berjalan-jalan sambil melihat kehidupan sederhana di dalam megahnya kehidupan ibukota Jakarta. Perbedaan yang tertangkap oleh kamera menggambarkan betapa “sederhana” nya orang-orang di Petak 9. Hanya dengan makanan apa adanya, bapak-bapak di sebelah kanan bangku terlihat subur dan makmur. Sedangkan pemuda di sebelahnya juga terlihat sederhana, tetapi tidak dengan kamera yang dia pakai. Tidak semua barang sederhana yang kita pakai terlihat murah. Terkadang kamera low-end suka disebut kamera jelek, padahal dengan uang yang bisa kita pakai untuk membeli kamera low-end, bisa dipakai untuk kalangan sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama beberapa bulan. Karena itulah saya memberi judul foto ini “Berbeda”. Semua orang memiliki kehidupan yang berbeda, kebutuhan yang berbeda dan keinginan yang berbeda pula. Karena pada dasarnya kita semua berbeda, tetapi tetap satu. Seperti arti dari Bhinneka Tunggal Ika. 

 

Detail Foto: Waktu : 30 Januari 2011.  

          Lokasi: Petak 9 Jakarta. High-res

Berbeda

by: Nuri Arunbiarti-Universitas Padjadjaran

Narasi: 

Foto ini diambil sewaktu saya dan teman dekat saya iseng hunting foto ke Petak 9, Jakarta. Karena saya belum pernah kesana sebelumnya, jadi saya memanfaatkan akhir pekan dengan berjalan-jalan sambil melihat kehidupan sederhana di dalam megahnya kehidupan ibukota Jakarta. Perbedaan yang tertangkap oleh kamera menggambarkan betapasederhananya orang-orang di Petak 9. Hanya dengan makanan apa adanya, bapak-bapak di sebelah kanan bangku terlihat subur dan makmur. Sedangkan pemuda di sebelahnya juga terlihat sederhana, tetapi tidak dengan kamera yang dia pakai. Tidak semua barang sederhana yang kita pakai terlihat murah. Terkadang kamera low-end suka disebut kamera jelek, padahal dengan uang yang bisa kita pakai untuk membeli kamera low-end, bisa dipakai untuk kalangan sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama beberapa bulan. Karena itulah saya memberi judul foto iniBerbeda”. Semua orang memiliki kehidupan yang berbeda, kebutuhan yang berbeda dan keinginan yang berbeda pula. Karena pada dasarnya kita semua berbeda, tetapi tetap satu. Seperti arti dari Bhinneka Tunggal Ika.

Detail Foto: Waktu : 30 Januari 2011.

          Lokasi: Petak 9 Jakarta.

10. 07. 12. 07:14 pm
Atraksi
by: Lutfi Amiruddin-Universitas Gadjah Mada

 

Narasi:

Agar mampu bertahan di tengah gempuran industri hiburan modern perkotaan, hiburan pasar malam pun hadir dengan wajah yang berbeda. Salah satu caranya adalah menambahkan atraksi dalam setiap wahana. Selain bekerja untuk menjalankan wahana Ombak Laut ini, para awak (crew) pasar malam juga menampilkan atraksi dengan bergelantungan pada wahana tersebut. Atraksi ini tergolong sangat berbahaya, namun justru itulah daya tarik tambahan dari wahana ini. Untuk mampu beratraksi, seorang crew harus memiliki tubuh yang lincah, dengan perhitungan akurat kapan harus melompat dan bergelantungan, di samping pula nyali yang tinggi. Tak pelak atraksi di wahana ini menjadi sajian yang menarik perhatian para pengunjung pasar malam. Pasar malam ini dihelat setiap tahun dalam perayaan Sekaten atau perayaan kelahiran nabi Muhammad SAW di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta

 

Detail : Waktu: 14/ 01/ 2011 
  Lokasi: Pasar Malam Sekaten Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta High-res

Atraksi

by: Lutfi Amiruddin-Universitas Gadjah Mada

Narasi:

Agar mampu bertahan di tengah gempuran industri hiburan modern perkotaan, hiburan pasar malam pun hadir dengan wajah yang berbeda. Salah satu caranya adalah menambahkan atraksi dalam setiap wahana. Selain bekerja untuk menjalankan wahana Ombak Laut ini, para awak (crew) pasar malam juga menampilkan atraksi dengan bergelantungan pada wahana tersebut. Atraksi ini tergolong sangat berbahaya, namun justru itulah daya tarik tambahan dari wahana ini. Untuk mampu beratraksi, seorang crew harus memiliki tubuh yang lincah, dengan perhitungan akurat kapan harus melompat dan bergelantungan, di samping pula nyali yang tinggi. Tak pelak atraksi di wahana ini menjadi sajian yang menarik perhatian para pengunjung pasar malam. Pasar malam ini dihelat setiap tahun dalam perayaan Sekaten atau perayaan kelahiran nabi Muhammad SAW di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta

Detail : Waktu: 14/ 01/ 2011 

  Lokasi: Pasar Malam Sekaten Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta